Trauma
Trauma psikologis biasa menimpa seseorang yang pernah mengalami kejadian yang sangat menyedihkan, menakutkan, atau mengancam nyawa. Trauma psikologis kadang bisa pulih dengan sendirinya seiring waktu. Namun jika tidak, berikut beberapa cara mengatasi trauma agar hidup bisa move on.
Macam-macam
trauma :
Menurut American Psychological Association (APA), trauma adalah
"respons emosional terhadap peristiwa mengerikan seperti kecelakaan,
pemerkosaan, atau bencana alam".Namun, seseorang mungkin mengalami trauma
sebagai respons terhadap peristiwa apa pun yang mereka anggap mengancam atau
berbahaya secara fisik atau emosional.
Trauma dapat memiliki efek jangka panjang pada kesejahteraan orang tersebut. Jika gejalanya menetap dan tidak menurunkan tingkat keparahan, dapat menunjukkan bahwa trauma telah berkembang menjadi sebuah kesehatan mental gangguan yang disebut post-traumatic stres disorder ( PTSD ).
Ada beberapa jenis trauma
psikologis, antara lain :
1.
Trauma akut : Ini diakibatkan oleh satu peristiwa yang membuat stres atau
berbahaya.
2. Trauma kronis : Ini terjadi akibat paparan berulang dan berkepanjangan terhadap
peristiwa yang sangat menegangkan. Contohnya termasuk kasus pelecehan
anak, penindasan, atau kekerasan dalam rumah tangga.
3. Trauma kompleks : Ini hasil dari paparan beberapa peristiwa traumatis.
Trauma
sekunder, atau trauma
perwakilan, adalah bentuk lain dari trauma. Dengan bentuk trauma
ini, seseorang mengalami gejala trauma akibat kontak dekat dengan seseorang
yang pernah mengalami peristiwa traumatis.
Tanda dan Gejala Trauma Psikologis
Banyak orang
mengalami reaksi fisik atau emosional yang kuat segera setelah mengalami
peristiwa traumatis. Kebanyakan orang akan menyadari bahwa perasaan mereka
menghilang selama beberapa hari atau minggu Namun, bagi sebagian individu, gejala trauma psikologis bisa semakin
parah dan berlangsung lebih lama. Ini mungkin hasil dari sifat peristiwa
traumatis, ketersediaan dukungan emosional, stresor kehidupan masa lalu dan
sekarang, tipe kepribadian, dan mekanisme koping yang tersedia.
Beberapa gejala trauma psikologis yang paling umum mungkin termasuk yang
berikut ini :
1. Kognitif:
·
Pikiran mengganggu tentang peristiwa
yang mungkin terjadi secara tiba-tiba
·
Mimpi buruk
·
Gambar visual dari acara tersebut
·
Kehilangan daya ingat dan kemampuan
konsentrasi
·
Disorientasi
·
Kebingungan
·
Perubahan suasana hati
2. Perilaku :
·
Menghindari aktivitas atau tempat yang
memicu ingatan akan kejadian tersebut
·
Isolasi dan penarikan sosial
· Kurangnya minat pada aktivitas yang sebelumnya menyenangkan
3. Fisik :
·
Mudah kaget
·
Kelelahan dan kelelahan yang luar biasa
·
Takikardia
·
Kegelisahan
·
Insomnia
·
Pola otot kronis
·
Disfungsi seksual
·
Perubahan pola tidur dan makan
·
Keluhan samar pegal dan nyeri di seluruh
tubuh
·
Kewaspadaan ekstrim; selalu
waspada terhadap peringatan potensi bahaya
4. sikologis :
·
Ketakutan yang luar biasa
·
Perilaku obsesif dan kompulsif
·
Detasemen dari orang lain dan emosi
·
Mati rasa emosional
·
Depresi
·
Rasa bersalah - terutama jika seseorang
hidup sementara yang lain binasa
·
Malu
·
Syok emosional
·
Ketidakpercayaan
·
Sifat lekas marah
·
Marah
·
Kegelisahan
·
Serangan panik
Peristiwa yang Berpotensi Jadi Penyebab
Peristiwa yang
berpotensi traumatis psikologis adalah dapat disebabkan oleh peristiwa tunggal,
atau dari stres yang terus-menerus dan tanpa henti. Peristiwa yang
berpotensi menimbulkan trauma lebih cenderung membuat seseorang mengalami
trauma emosional dan psikologis yang bertahan lebih lama jika :
·
Orang tersebut tidak siap untuk acara
tersebut
·
Peristiwa itu terjadi secara tiba-tiba
·
Orang tersebut merasa tidak berdaya
untuk mencegah kejadian tersebut
·
Peristiwa itu terjadi berulang kali
(seperti pelecehan anak)
·
Jika peristiwa itu melibatkan kekejaman
yang ekstrim
·
Jika peristiwa itu terjadi pada masa
kanak-kanak
Peristiwa yang
berpotensi traumatis didefinisikan sebagai peristiwa yang kuat dan menjengkelkan
yang mengganggu kehidupan sehari-hari seorang pria atau wanita. Secara
umum, peristiwa yang berpotensi traumatis melibatkan ancaman besar bagi
kesejahteraan psikologis dan fisik seseorang.
Peristiwa yang
berpotensi traumatis dapat mengancam jiwa; untuk kehidupan sendiri atau
kehidupan orang yang dicintai. Peristiwa ini mungkin berdampak sangat
kecil pada satu individu tetapi dapat menyebabkan tekanan yang signifikan pada
individu lain.
Dampak dari peristiwa
yang berpotensi traumatis mungkin terkait dengan kesehatan mental dan fisik
orang tersebut, pengalaman traumatis masa lalu, adanya keterampilan koping, dan
tingkat dukungan sosial dan emosional pada saat peristiwa yang berpotensi
traumatis. Contoh kejadian dan situasi yang dapat menyebabkan perkembangan
trauma psikologis mungkin meliputi:
- Bencana
alam seperti kebakaran, gempa bumi, tornado, dan
angin topan
- Kekerasan interpersonal seperti pemerkosaan, pelecehan anak, atau bunuh diri orang yang dicintai atau teman
- Terlibat dalam kecelakaan mobil yang serius atau kecelakaan kerja
- Tindakan kekerasan seperti perampokan bersenjata, perang, atau terorisme
Penyebab trauma
Ada beberapa kejadian yang mungkin menjadi penyebab Anda mengalami trauma.
Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut :
1. Kejadian yang terjadi hanya satu kali
Jangan salah, meski hanya terjadi satu kali seumur hidup, ada kejadian yang bisa menimbulkan trauma mendalam bagi orang yang mengalaminya. Hal ini termasuk kecelakaan, bencana alam, hingga serangan teroris. Hal ini sangat berpotensi menyebabkan trauma, khususnya jika terjadi secara tiba-tiba tanpa diduga dan dialami saat masih anak-anak.
2. Kejadian yang terjadi terus-menerus
Selain itu, kejadian yang
terjadi terus-menerus juga dapat menimbulkan efek traumatis terhadap orang yang
mengalaminya. Jadi, bukan berarti karena mengalaminya setiap hari, orang
tersebut terbiasa terhadap kejadian tidak menyenangkan yang dialaminya, ya. Ada beberapa hal yang mampu menimbulkan
perasaan trauma. Contohnya, tinggal di lingkungan yang penuh dengan tindak
kejahatan, hingga memiliki penyakit serius dan mematikan.
Mengalami bullying saat remaja atau kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, hingga ditinggalkan oleh orangtua saat masih kecil juga bisa menjadi penyebab dari trauma.
3. Kejadian yang sering dianggap remeh
Selain kedua kejadian tersebut,
ada pula kejadian yang terlihat sepele, tapi bisa menimbulkan trauma. Biasanya,
banyak orang yang menganggap hal ini wajar terjadi. Apalagi jika banyak orang
lain yang mengalaminya tapi tidak merasakan efek trauma.
Contohnya, menjalani operasi besar, kematian orang terdekat secara mendadak, putus dengan pasangan, atau mengalami pengalaman yang memalukan atau mengecewakan.
Faktor risiko trauma
Pada dasarnya, siapa saja pasti
memiliki potensi yang sama besarnya untuk mengalami trauma. Namun, Anda akan
semakin rentan mengalaminya jika sedang dalam kondisi tidak stabil.
Contohnya, sedang stres, baru
mengalami kehilangan, atau sudah pernah mengalami kejadian traumatis
sebelumnya. Salah satu kejadian traumatis yang dapat meningkatkan risiko Anda
mengalaminya lagi adalah kejadian yang dialami saat masih anak-anak.
Trauma masa kecil biasanya terjadi karena ada hal yang membuat anak merasa tak aman, seperti
- Lingkungan
yang tidak aman.
- Terpisah
dari orangtua.
- Penyakit
serius.
- Kekerasan
fisik, seksual, dan verbal.
- Kekerasan
dalam rumah tangga.
- Pengabaian
oleh orang-orang terdekat.
Efek
trauma berkepanjangan
Trauma adalah hal yang sangat wajar. Umumnya, perasaan trauma ini
juga bisa hilang dengan sendirinya, selama ada dukungan dari teman dan keluarga
terdekat.
Sayangnya, ada juga trauma yang tergolong parah, sehingga jika tidak segera diatasi dapat menyebabkan Anda mengalami gangguan mental lainnya. Ada beberapa efek dari trauma berkepanjangan yang mungkin terjadi :
1.
Post-traumatic stress disorder (PTSD)
PTSD adalah salah satu bentuk respons yang mungkin muncul setelah Anda mengalami kejadian traumatis. Kemungkinan Anda mengalami kondisi ini sangat tergantung dengan kejadian yang Anda alami, serta bagaimana Anda menerima kejadian tersebut.
PTSD merupakan bentuk reaksi yang wajar. Akan tetapi, jika kondisi ini terus berlanjut selama lebih dari dua minggu, sebaiknya cari bantuan medis untuk mengatasi efek dari trauma yang satu ini.
2. Depresi
Terus-menerus merasa ketakutan dan dihantui oleh peristiwa
traumatis dapat memicu depresi. Apalagi jika Anda sendiri tidak tahu bagaimana
cara mengatasi perasaan-perasaan tersebut.
Saat depresi, Anda akan kesulitan melakukan berbagai aktivitas
sehari-hari yang biasanya mudah untuk dijalani. Contohnya, berangkat kerja,
bertemu dengan orang lain, atau hanya sekedar bangkit dari tempat tidur pun
rasanya tak mampu.
Kondisi ini tergolong masalah mental yang cukup sering terjadi. Hanya saja, saat Anda merasa depresi, akan semakin sulit untuk menghadapi trauma yang juga sedang dialami. Maka itu, segera periksakan kondisi ke dokter saat Anda sudah mengalami depresi lebih dari dua minggu.
3. Gangguan kecemasan
Merasa cemas, takut, panik setelah mengalami peristiwa traumatis
adalah hal yang sangat lazim terjadi. Bahkan, bersamaan dengan itu, Anda juga
merasakan berbagai gejala fisik yang mungkin muncul.
Namun, jika perasaan cemas bertambah semakin parah, mungkin Anda sedang mengalami gangguan kecemasan. Apalagi jika rasa cemas tersebut sudah mengganggu keseharian Anda. Jika sudah demikian, lebih baik cari bantuan medis agar kondisi ini bisa segera diatasi.
4. Masalah dalam kehidupan sehari-hari
Jika Anda sudah berlarut-larut dalam kesedihan, ketakutan, kecemasan,
dan perasaan negatif lainnya, bisa jadi kehidupan Anda akan terganggu.
Artinya, akan timbul berbagai masalah baru dalam kehidupan
sehari-hari karena Anda tidak menunjukkan keinginan untuk move on dari trauma yang dialami.
Sebagai contoh, muncul masalah dengan performa kerja yang
menyebabkan masalah dengan atasan atau kolega. Selain itu, ada pula kemungkinan
timbulnya masalah dengan pasangan, orangtua, atau anggota keluarga dan
teman-teman.
Memang benar bahwa menghadapi trauma bukan hal yang mudah. Oleh sebab itu, jika Anda merasa sudah diluar kendali dan tidak bisa mengatasinya sendiri, lebih baik cari bantuan medis.
5. Kecanduan rokok, alkohol, dan obat
terlarang
Menurut Phoenix Australia,
atau pusat kesehatan mental pascatrauma di Australia, salah satu efek yang
mungkin dialami seseorang saat mengalami trauma berkepanjangan adalah kecanduan
alkohol, rokok, hingga obat-obatan terlarang.
Hal ini disebabkan produk-produs tersebut kemungkinan dapat
mengurangi gejala trauma yang kerap muncul. Sayangnya, efek yang diberikan oleh
ketiganya hanya berlangsung singkat atau jangka pendek.
Hanya saja, hal tersebut membuat Anda menjadi ingin terus-menerus
mengonsumsinya hingga menjadi kecanduan. Padahal, terlalu banyak mengonsumsi alkohol,
menggunakan rokok, hingga mengonsumsi obat-obatan juga dapat memberikan dampak
buruk kepada kesehatan tubuh Anda.
Cara
mengatasi trauma
Ada beberapa cara yang bisa
dilakukan untuk mengatasi trauma, beberapa di antaranya adalah :
1.
Terapi
Salah satu cara yang bisa Anda
tempuh adalah dengan menjalani psikoterapi atau terapi psikologi. Cara ini dianggap
salah satu yang paling efektif, khususnya jika sudah tidak bisa mengatasi
kondisi ini secara mandiri atau dengan bantuan orang terdekat.
Cognitive behavioral therapy
Cognitive behavioral therapy (CBT) adalah jenis psikoterapi yang bisa Anda
jalani. Pada terapi ini, Anda akan dibantu untuk menerima dan mengevaluasi
pikiran dan perasaan terhadap kejadian traumatis yang pernah terjadi.
Somatic experiencing
Sedikit berbeda dengan CBT, terapi
ini lebih fokus terhadap sensasi yang dirasakan oleh tubuh terhadap peristiwa
penyebab trauma. Berkonsentrasi penuh terhadap tubuh dapat memudahkan Anda
untuk mengeluarkan energi berupa amarah, kekecewaan, kesedihan yang berkaitan
dengan trauma. Energi yang keluar bisa berupa tangisan, tubuh yang terguncang,
hingga berbagai jenis pelepasan energi melalui pergerakan fisik lainnya
2. Penggunaan
obat-obatan
Terkadang, penggunaan obat-obatan tertentu dapat membantu mengatasi trauma. Akan tetapi, penggunaan obat ini harus berdasarkan resep dokter, bukan atas keinginan sendiri.
Di samping itu, meski sudah mengonsumsi obat-obatan, dokter tetap harus melakukan pemeriksaan secara rutin terhadap kondisi kesehatan Anda. Berikut adalah beberapa jenis obat yang bisa Anda konsumsi :
Tranquiliser
Obat ini dapat membantu mengurangi kecemasan yang mungkin timbul akibat trauma yang Anda alami. Tak hanya itu, penggunaan obat ini juga dapat membantu agar bisa merasa mengantuk dan memiliki keinginan untuk tidur.
Meski begitu, obat ini tidak disarankan untuk penggunaan jangka panjang, karena obat ini memang lebih ideal untuk penggunaan jangka pendek. Terlebih, Anda bisa saja mengalami kecanduan
obat jika terus-menerus mengonsumsi obat ini.
Antidepresan
Saat mengalami kondisi ini, Anda bisa saja mengalami depresi, khususnya jika trauma tak segera diatasi. Penggunaan obat antidepresan dapat membantu mengurangi gejala depresi, tapi harus tetap dengan resep dari dokter.
3. Tindakan
mandiri di rumah
Sebagai hal yang wajar setelah mengalami kejadian traumatis, trauma sebenarnya bisa hilang tanpa bantuan ahli medis. Namun, harus ada kemauan dari diri sendiri untuk terlepas dari trauma yang dialami. Untuk mengatasi trauma tanpa bantuan ahli medis, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan, misalnya:
Tidur cukup dan konsumsi makanan bernutrisi
Saat mengalami trauma, Anda mungkin menjadi malas makan, tidak bisa tidur,
dan hanya ingin diam sendiri di dalam kamar sambil bersembunyi di balik
selimut. Sayangnya, itu bukan cara yang tepat untuk mengatasi trauma.
Meski sedang sedih, marah, takut, kecewa, dan merasakan berbagai emosi negatif lainnya, Anda tidak boleh lengah menjaga kesehatan. Pasalnya, cara ini dapat membantu mengurangi perasaan trauma yang menghantui Anda. Dari segi menjaga pola tidur, cobalah untuk selalu tidur tepat waktu. Pastikan bahwa Anda sudah cukup tidur, misalnya selama tujuh jam setiap malam.
Di
samping itu, cobalah untuk tidur di waktu yang sama setiap harinya. Ini mungkin
bukan hal yang mudah, khususnya dalam kondisi yang tidak stabil seperti saat
sedang mengalami trauma. Namun, kurang tidur justru memperburuk gejala trauma
yang muncul. Akibatnya, akan semakin susah mengendalikan keseimbangan emosi
Anda.
Di
sisi lain, Anda juga perlu menjaga pola makan yang sehat. Konsumsi makanan
dengan gizi seimbang. Tak lupa, hindari berbagai makanan manis atau gorengan
untuk membantu meningkatkan suasana hati Anda.
Rutin berolahraga
Berolahraga merupakan bagian dari menerapkan gaya hidup sehat. Saat aktif bergerak, tubuh akan memproduksi lebih banyak hormon endorfin yang dapat meningkatkan suasana hati Anda. Untuk mendapatkan manfaatnya, lakukan olahraga secara rutin, misalnya lima hari dalam seminggu. Kemudian, luangkan waktu sebanyak 30 menit setiap harinya untuk berolahraga. Ada banyak pilihan olahraga yang bisa Anda lakukan, mulai dari berenang, jalan kaki, jogging, berlari, hingga bermain sepeda. Anda bisa memilih jenis olahraga yang paling sesuai dengan kondisi tubuh.
Tetap berinteraksi dengan orang lain
Saat mengalami trauma, Anda mungkin cenderung ingin sendiri, mengurung diri di kamar dan menjauhi semua orang. Padahal, terlalu banyak menghabiskan waktu sendiri justru dapat memperparah efek trauma yang Anda alami. Maka itu, cobalah untuk memperbanyak interaksi dengan orang lain, walau Anda sedang tidak ingin melakukannya. Anda juga perlu melakukan berbagai kesibukan yang dapat mempertemukan dengan banyak orang
Pada
dasarnya trauma akan menimbulkan berbagai perasaan tidak menyenangkan. Hal
tersebut memang wajar terjadi. Meski demikian, segera lakukan berbagai cara
untuk mengatasi trauma yang dialami, agar tidak dihantui oleh kejadian yang
sudah lewat. Biarkan masa-masa menyedihkan itu berlalu dan jangan izinkan
dampak buruk dari kejadian tersebut merusak masa depan.
Daftar
Referensi :
https://hellosehat.com/mental/gangguan-kecemasan/trauma/
Komentar
Posting Komentar