BULLYING

Bullying adalah perbuatan tidak baik yang dilakukan oleh seseorang atau lebih kepada orang lainnya. Perbuatan tidak baik yang dimaksud bisa berupa hal-hal yang menyakiti secara fisik, seperti memukul, mendorong, dan lain-lain. Bisa juga menyakiti secara verbal, misalnya mengejek penampilan, menghina kemampuan, dan masih banyak lagi. Tidak kan menjauhi dan mengucilkan seseorang juga termasuk tindakan bullying, loh.

Bullying tidak hanya terjadi pada orang-orang yang saling kenal atau sering bertemu secara langsung. Di zaman yang sudah maju ini, bullying bisa dilakukan lewat telepon, mengirim pesan melalui SMS atau email, dan meninggalkan komentar buruk di media sosial. Istilah bullying melalui gadget (gawai) biasa dikenal dengan istilah cyberbullying.

Alasan Seseorang Melakukan Bullying

Para pelaku bully biasa mendapatkan kepuasan dari menindas orang. Ia merasa lebih kuat dan lebih berkuasa, karena ada orang yang takut pada dirinya. Bisa juga karena ia akan mendapat popularitas disekolah karena ditakuti oleh siswa lainnya.

Padahal sebenarnya para pembully ini akan tidak disukai oleh orang-orang yang tidak setuju dengan tindakannya. Dan alasan lain mereka menindas adalah karena mereka iri pada kelebihan target bullying mereka atau merasa terancam karena kehadiran seseorang. Namun, ada juga orang yang melakukan bully karena mereka masalah yang menyebabkan mereka menindas untuk menyalurkan amarah mereka kepada orang lain.

Biasanya pada pembully tidak menyadari akibat perbuatannya, sehingga tidak merasa bersalah. Banyak ahli percaya bahwa pelaku bullying bisa jadi melakukan hal itu karena mereka juga pernah mengalami hal yang sama di lingkungan lain.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Menjadi Korban Bullyin ?

Jika kita menjadi salah satu korban bullying, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan :

- Temui seseorang yang kamu percaya dan beri tahu pada mereka apa yang terjadi padamu.

- Jika bullying terjadi di sekolah, maka beri tahu seorang guru atau penasihat sekolah dan tanyakan apa yang bisa dilakukan untuk menindaklanjuti hal itu.

Langkah-langkah untuk menanganinya :

- Jangan takut untuk melaporkan tindakan bullying pada pihak yang memiliki wewenang. Jika kamu berani, tandanya kamu menyelamatkan dirimu sendiri dan korban bullying lainnya.

- Kalau bisa saat mulai ada tanda-tanda bullying kepadamu tunjukkan sifat berani dan percaya diri agar pembully berpikir ulang untuk melakukan tidakan itu padamu berulang kali. 

Perbedaan bullying dan bercanda

Ada kalanya, bullying dan bercanda tidak bisa dibedakan karena keduanya bisa jadi bersifat iseng atau mengerjai anak yang menjadi korban. Namun, ada batasan yang sangat jelas antara bullying dan bercanda.

Bercanda dilakukan anak-anak sebagai salah satu cara komunikasi dan bentuk interaksi sosial. Bercanda dapat mempererat hubungan pertemanan di antara anak karena mereka dapat tertawa bersama dan menjadi lebih akrab. Bahkan, sebagian bentuk candaan mungkin hanya dapat dilakukan pada anak-anak yang berteman akrab.

Sementara itu, perbedaan mencolok bullying dari candaan adalah tujuan pelaku yang melakukan perundungan karena perasaan benci dan bermaksud menyakiti. Tujuan melakukan bullying bukanlah untuk membangun hubungan, melainkan untuk mempermalukan dan menyakiti korban sehingga pelaku merasa lebih hebat.

Namun, perlu diwaspadai bahwa walaupun bercanda tidak memiliki tujuan awal buruk, tapi hal yang lucu bagi seorang anak, mungkin tidak menyenangkan bagi anak lainnya. Pada saat candaan yang tidak menyenangkan terus dilakukan berulang kali dan membuat anak lainnya tersakiti, maka bercanda pun bisa berubah menjadi bullying.

Dampak bullying terhadap anak

Bullying memiliki dampak yang luas. Selain bagi anak-anak yang menjadi korban, dampak negatif juga dapat dirasakan pelaku perundungan hingga mereka yang menyaksikan perundungan. Tindakan perundungan telah banyak dikaitkan dengan dampak negatif pada perkembangan anak, termasuk gangguan kesehatan mental, penggunaan narkoba, depresi, hingga bunuh diri.

1. Bagi anak korban perundungan

Anak korban perundungan dapat mengalami masalah kesehatan fisik, sosial, emosional, mental dan juga masalah akademik. Mereka juga bisa merasakan gejala-gejala, seperti depresi, cemas, meningkatnya perasaan sedih, perubahan pola tidur dan makan, serta hilangnya minat untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Tidak jarang korban perundungan kemudian melakukan tindakan balasan yang sangat kejam. Masalah anak-anak ini juga dapat bertahan hingga usia dewasa.

2. Bagi anak pelaku perundungan

Anak pelaku perundungan dapat terlibat dalam perilaku kekerasan dan berisiko lainnya, di mana perilaku ini bisa terbawa hingga dewasa. Mereka akan cenderung agresif dan terlibat penyalahgunaan alkohol, narkoba, melakukan tindak pelecehan, perusakan, bahkan melakukan tindakan pidana setelah dewasa.

3. Bagi anak-anak yang menyaksikan bullying

Anak-anak yang menyaksikan bullying dapat mengalami peningkatan penggunaan tembakau, alkohol atau obat-obatan, memiliki masalah kesehatan mental, temasuk depresi dan kecemasan serta membolos sekolah.

Jenis-jenis bullying

Terdapat berbagai jenis bullying yang dapat terjadi di tengah lingkungan pergaulan anak.

1. Perundungan fisik

Bullying fisik adalah tindakan intimidasi yang dilakukan sebagai usaha mengontrol korban dengan kekuatan yang dimiliki pelakunya. Termasuk di antaranya menendang, memukul, meninju, menampar, mendorong, dan serangan fisik lainnya.

Bullying fisik merupakan jenis bullying yang paling mudah dikenali dan biasanya orangtua maupun guru lebih peka terhadap tipe perundungan ini.

2. Bullying verbal

Bullying verbal merupakan jenis perundungan dengan menggunakan kata-kata, pernyataan, dan sebutan atau panggilan yang menghina. Pelaku perundungan verbal akan terus melakukan penghinaan untuk meremehkan, merendahkan, dan melukai orang lain.

Hasil sebuah penelitian menunjukkan bahwa intimidasi verbal dan pemberian nama panggilan yang buruk memiliki konsekuensi serius pada korban dan dapat meninggalkan bekas luka emosional yang dalam.

3. Agresi relasional

Agresi relasional adalah tipe perundungan yang dilakukan secara emosional dan kerap luput dari perhatian orangtua dan guru. Padahal tipe perundungan ini tidak kalah berbahaya. Dalam agresi relasional, biasanya pelaku berusaha menyakiti korban dengan menyabotase status sosial mereka dengan cara :

-                      Mengasingkan korban dari kelompok

-                      - Menyebarkan gosip atau fitnah

-                      Pelaku berusaha menaikkan kedudukan sosial sendiri dengan mengendalikan atau mengintimidasi korban.

4. Cyberbullying

Cyberbullying adalah tindakan perundungan yang terjadi secara online di dunia maya. Ini merupakan tindakan perundungan yang paling jarang disadari oleh orangtua dan guru. Pelaku melakukan perundungan dengan cara melecehkan, mengancam, mempermalukan, dan menargetkan korban melalui media online.

Besar kemungkinan seorang anak korban bullying tidak bicara terus terang jika dia mengalami perundungan. Oleh karena itu, sebaiknya Anda mulai lebih peka jika anak-anak menunjukkan perubahan perilaku yang tidak biasa.

Untuk menyelesaikan masalah perundungan, mungkin akan diperlukan kerjasama oleh beberapa pihak, termasuk dengan pihak sekolah. Mungkin pihak kepolisian harus dilibatkan jika perundungan telah melibatkan kekerasan fisik atau pemerasan.

Definisi bullying menurut para ahli :

-        Menurut Olweus (2005), bullying adalah sebuah tindakan atau perilaku agresif yang disengaja, yang dilakukan oleh sekelompok orang atau seseorang secara berulang-ulang dan dari waktu ke waktu terhadap seorang korban yang tidak dapat mempertahankan dirinya dengan mudah atau sebagai sebuah penyalahgunaan kekuasaan/kekuatan secara sistematik.

-        Menurut Wicaksana (2008), bullying adalah kekerasan fisik dan psikologis jangka panjang yang dilakukan seseorang atau kelompok, terhadap seseorang yang tidak mampu mempertahankan dirinya dalam situasi di mana ada hasrat untuk melukai atau menakuti orang itu atau membuat dia tertekan.

-        Menurut Black dan Jackson (2007), bullying merupakan perilaku agresif tipe proaktif yang di-dalamnya terdapat aspek kesengajaan untuk mendominasi, menyakiti, atau menyingkirkan, adanya ketidakseimbangan kekuatan baik secara fisik, usia, kemampuan kognitif, keterampilan, maupun status sosial, serta dilakukan secara berulang-ulang oleh satu atau beberapa anak terhadap anak lain.

-        Menurut Sejiwa (2008), bullying ialah sebuah situasi di mana terjadinya penyalahgunaan kekuatan/kekuasaan fisik maupun mental yang dilakukan oleh seseorang/sekelompok, dan dalam situasi ini korban tidak mampu membela atau mempertahankan dirinya.

-        Menurut Rigby (1994), bullying adalah sebuah hasrat untuk menyakiti yang diperlihatkan ke dalam aksi secara langsung oleh seseorang atau kelompok yang lebih kuat, tidak bertanggung jawab, biasanya berulang, dan dilakukan secara senang bertujuan untuk membuat korban menderita.

Unsur-Unsur Bullying

Menurut Coloroso (2006), terdapat empat unsur dalam perilaku bullying kepada seseorang, yaitu sebagai berikut :

-        Ketidakseimbangan kekuatan. Pelaku bullying dapat saja orang yang lebih tua, lebih besar, lebih kuat, lebih mahir secara verbal, lebih tinggi dalam status sosial, berasal dari ras yang berbeda, atau tidak berjenis kelamin yang sama. Sejumlah besar kelompok anak yang melakukan bullying dapat menciptakan ketidakseimbangan.

-        Niat untuk mencederai. Bullying berarti menyebabkan kepedihan emosional dan/atau luka fisik, memerlukan tindakan untuk dapat melukai, dan menimbulkan rasa senang di hati sang pelaku saat menyaksikan luka tersebut.

-        Ancaman agresi lebih lanjut. Baik pihak pelaku maupun pihak korban mengetahui bahwa bullying dapat dan kemungkinan akan terjadi kembali. Bullying tidak dimaksudkan sebagai peristiwa yang terjadi sekali saja.

-       Teror. Bullying adalah kekerasan sistematik yang digunakan untuk mengintimidasi dan memelihara dominasi. Teror yang menusuk tepat di jantung korban bukan hannya merupakan sebuah cara untuk mencapai tujuan tindakan bullying, teror itulah yang merupakan tujuan dari tindakan bullying tersebut

Ciri Pelaku dan Korban Bullying

Ciri-ciri pelaku bullying adalah memiliki kekuasaan yang lebih tinggi sehingga pelaku dapat mengatur orang lain yang dianggap lebih rendah. Menurut Astuti (2008), ciri-ciri pelaku bullying antara lain adalah sebagai berikut :

-                  Hidup berkelompok dan menguasai kehidupan sosial siswa di sekolah.

-                  Menempatkan diri ditempat tertentu di sekolah/sekitarnya.

-                  Merupakan tokoh populer di sekolah.

-                  Gerak-geriknya seringkali dapat ditandai, yaitu sering berjalan di depan, sengaja menabrak, berkata kasar, menyepelekan/melecehkan.

Sedangkan menurut Susanto (2010), ciri-ciri korban bullying antara lain adalah sebagai berikut :

-         Secara akademis, korban terlihat lebih tidak cerdas dari orang yang tidak menjadi korban atau sebaliknya.

-        Secara sosial, korban terlihat lebih memiliki hubungan yang erat dengan orang tua mereka.

-        Secara mental atau perasaan, korban melihat diri mereka sendiri sebagai orang yang bodoh dan tidak berharga. Kepercayaan diri mereka rendah dan tingkat kecemasan sosial mereka tinggi.

-        Secara fisik, korban adalah orang yang lemah, korban laki-laki lebih sering mendapat siksaan secara langsung, misalnya bullying fisik. Dibandingkan korban laki-laki, korban perempuan lebih sering mendapat siksaan secara tidak langsung misalnya melalui kata-kata atau bullying verbal.

-        Secara antar perorangan, walaupun korban sangat menginginkan penerimaan secara sosial, mereka jarang sekali untuk memulai kegiatan-kegiatan yang menjurus ke arah sosial. Anak korban bullying kurang diperhatikan oleh pembina, karena korban tidak bersikap aktif dalam sebuah aktivitas.

Peran dan Skenario Bullying

Menurut Salmivalli (2010), terdapat beberapa peran terjadinya skenario bullying di sekolah yaitu sebagai berikut :

-        Bully yaitu pelaku langsung bullying. Siswa yang biasanya dikategorikan sebagai pemimpin, dia berinisiatif dan aktif terlibat dalam perilaku bullying.

-        Assisting the bully yaitu orang yang menemani temannya melakukan bullying. Dia juga terlibat aktif dalam perilaku bullying, namun ia cenderung bergantung mengikuti perintah bully.

-        Reinforcing the bully adalah mereka yang mendukung temannya melakukan bullying. Ada ketika kejadian bullying terjadi, ikut menyaksikan, menertawakan korban, memprovokasi bully, mengajak siswa lain untuk menonton dan sebagainya.

-        Defender adalah orang-orang yang berusaha membela dan membantu korban, tetapi seringkali mereka menjadi korban juga.

-        Outsider adalah orang-orang yang tahu bahwa hal itu terjadi, namun tidak melakukan apapun, seolah-olah tidak peduli pada korban karena takut menjadi korban bully selanjutnya.

-       Victim adalah orang yang seringkali menjadi sasaran bully. Mereka biasanya memiliki fisik yang lemah, dan memiliki suatu kekurangan sehingga sering menjadi korban bully.

Daftar Referensi :

https://bobo.grid.id/read/082129569/bullying-pengertian-penyebab-dan-cara-mengatasinya?page=all

https://www.sehatq.com/artikel/pengertian-bullying-dan-jenis-jenisnya-yang-harus-diwaspadai

https://www.kajianpustaka.com/2018/01/pengertian-unsur-jenis-ciri-ciri-dan-skenario-bullying.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trauma

MENGENAL GANGGUAN BIPOLAR DISORDER